Kamis, 04 Juli 2024

Kentut Jadi Gelut

(https://x.com/soulusiMY/status/1078970360266076161) Dari kentut jadi gelut Kentut manusia baunya minta ampun. Meskipun orangnya cantik ganteng ga ngaruh. Umumnya kentut ya bau. Lantas saya berfikir kok bisa ya gas yang keluar dari tubuh kita alias kentut itu justru malah terasa nikmat jikalau itu adalah kentut kita sendiri. Kadang malah kita pernah sesekali kalo ingin kentut justru menangkap gas yang keluar dengan tangan kemudian di buang tepat di depan hidung supaya benar-benar tercium nikmatnya. Tapi, kalo kita megendus kentut orang lain justru malah seperti orang kesetanan, langsunh di tutupi atau bahkan kalo sedang di tongkrongan atau kumpul dengan orang-orang apabila ada yang kentut justru semuanya lari dan saling tuduh. Timbulan sesuana yang gaduh. Dari peristiwa diatas saya kemudian sejenak merenung dan berusaha mengaitkan dengan dosa atau maksiat itu sama halnya dengan kentut kita sendiri. Begini kira-kira penjelasanya Kentut kita sendiri itu akan terasa nikmat oleh diri kita, tetapi akan terasa begitu bau dan sengat menyengat baunya ketika orang lain yang menciumnya, begitu juga sebaliknya. Padahal sama sama bau, hal ini karena mungkin faktor pembiasaan hidung kita terhadap bau yang kita hasilkan dari kentut itu sendiri. Apabila bau itu telah membersamai kita otomatis selama kita hidup bau itu menjadi bau yang tak lagi menjijikan dan bahkan bau itu berubah jadi sedap. Ini sama dengan halnya maksiat atau dosa ketika kita melakukan maksiat atau perbuatan yang menimbulkan dosa. Dosa itu akan terasa nikmat dalam diri kita, tetapi akan terasa begitu buruk di hadapan orang lain. Dan begitupula sebaliknya. Contoh kita sering melakukan maksiat mencuri misalnya dalam hal ini kita sering kali melakukan dosa yaitu dengan cara mencuri. Tetapi itu kita bela karena kebiasaan kita dan memang curian itu kecil halnya. Kemudian para koruptor pejabat negara yang melakukan korupsi atau pencurian itu lantas kita hukumi sebagai orang yang laknat dan kita anggap menjijikan. Padahal konsepnya sama-sama mencuri. Tidak ada takaran besar kecil mencuri karena pada dasarnya besar maupun kecil takaranya kita tetap tidak boleh untuk mencuri. Kasus lainya ketika kita di tongkrongan obrolan sedang hangat-hangatnya asik-asiknya tiba-tiba ada pemecah suasana yaitu suara kentut, lantas mereka lari kalang kabut dan sembari menutupi hidungnya karena mendapati suara dan juga bau kentut yang tiada tandinganya itu. Kita bisa langsung reflek untuk menghindarinya. Tetapi jika kita qiaskan kentut = dosa yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Ketika ada suatu tongkrongan mendapati ada yang melakukan maksiat malah kita membiarkanya amit-amit justru malah mendukung dan ikut serta. Jikalau kita sadar bahwa dosa ataupun maksiat tersebut adalah kentut pasti kita telah mati keracunan karena saking banyaknya kentut orang yang kita cium terus menerus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu, Adalah Judulnya

Teramat anggun senyum wajahmu. Tutur kata yang lembut sopan saat masuk di telingga terasa adem di hati. Malam menyentuhku lewat pesan yang k...